Minggu, 31 Agustus 2008

Marcell dan Agama



“Saya kurang mampu berbasa-basi. Saya adalah pribadi yang punya kecenderungan tertutup. Saya harus merasa aman dan nyaman dulu baru bisa terbuka”

Kalimat di atas saya kutip dari blog Marcell Siahaan, suami penyanyi Dewi Lestari. Membacanya membangunkan ingatan saya tentang Ia. Ia, sosok yang mengisi hari-hari saya dua tahun belakangan ini.

Ia bukan penyanyi, tapi punya tiga kesamaan dengan Marcell : batak, tertutup dan memiliki rambut ikal J. Dua tahun menjalin hubungan tentu bukan waktu yang singkat, jatuh bangun sampe nyungsep pernah kami rasakan. Entah mengapa dan untuk apa kami masih memutuskan untuk bersama.

“Dia adalah penganut Katolik yang taat, sementara saya adalah muslim yang tidak terlalu taat”

Perbedaan agama membuat saya ragu untuk melangkah lebih jauh dengan dia. Saya tahu, selalu ada pemakluman-pemakluman atas nama cinta, seperti saya dengan ikhlas menemani dia menjalani kebaktian di Gereja atau dia dengan senang hati menghormati ibadah puasa yang saya lakukan.

Tapi apa keluarga kami juga bisa melakukan toleransi yang sama? Ibu saya terang-terangan menolak hubungan ini. Tentu butuh ketegaan yang ekstra untuk menyakiti hati perempuan yang dengan sudah susah payah melahirkan dan membesarkan saya. apalagi konon katanya surga ada di telapak kaki ibu.

Ibu dan keluarga Ia juga belum tentu suka dengan saya. Mereka pasti lebih senang jika Ia menikah dengan gadis satu gereja yang marga Siahaan atau Manurung.

“Dinding pemisah kalian budaya, bukan agama,” kata Joko Pinurbo saat kami duduk di warung kopi pada suatu senja.

Mungkin juga..

Angan saya melayang pada Dia. Dia yang tahun lalu pernah mengemukakan tawaran “gila” pada saya. Tawaran gila yang membuat saya tersenyum bila mengingatnya.

Dia juga katolik, meski tidak taat seperti Ia. Setidaknya Dia pernah memimpin doa waktu ada kebaktian di rumahnya. Keluarga Dia juga cukup plural, seolah agama hanyalah cangkang dan yang terpenting adalah pelaksanaannya. –tidak ada agama yang mengajarkan hambanya berbuat hal buruk-

Ajakan gila yang Dia tawarkan adalah menikah. Iya menikah –bagi orang yang mengenal Dia pasti akan terbahak-.

Dia berjanji menikahi saya dengan cara Islam. Dia juga berjanji mengganti kolom agama di KTP nya dengan tulisan Islam. Tentu hanya di KTP karena jika ingin beribadah tentu Ia akan memilih beribadah dengan cara katolik, Ia sudah berlangganan agama itu selama hampir 30 tahun. Dia juga menyatakan tidak akan keberatan kalau semua anak kami mengikuti kepercayaan saya.

“Kalau kamu butuh imam sholat aja di masjid, nanti kalau anak kamu dah besar kan dia bisa jadi imam kamu. Lagian islamkan bukan sekedar nikah seagama atau nggak makan babi”

Sayangnya hubungan saya dan Dia tak berjalan langgeng. Meski hingga kini kami masih jalan beriringan, namun kami lebih memilih memberi label teman, tak lebih sehingga No hug, No Kiss.

Ia berbaik hati menemani saya nonton jazz dan tak keberatan bila saya berteriak histeris melihat Glenn Fredly. Ia juga tak keberatan untuk merogoh kocek agak dalam untuk sekedar mentraktir makan sea food –i love sea food so much-.

Jujur kadang saya rindu saat-saat bersama Ia. Kadang saya berpikir akan menjawab, yes i will ketika dia mengajukan tawaran seperti tahun lalu. Tapi tawaran itu tak berulang, mungkin takkan pernah berulang.

Oya Ia juga punya dua kesamaan dengan Marcell, dia pendiam, tertutup dan berambut ikal –tapi dia Jawa-.

Rabu, 06 Agustus 2008

Lelaki Paruh Baya dan Eksotisme Pria Jawa


Jika para perempuan sering berteriak histeris melihat kegtampanan Dude Herlino atau tubuh liat VJ Evan, entah kenapa beberapa waktu belakangan ini saya lebih tertarik dengan lelaki-lelaki berusia matang. Penampilan yang matang ditambah kerut serta gurat-gurat diujung mata malah menambah kesan seksi mereka.

Perubahan selera saya terhadap laki-laki, mungkin terjadi seiring bertambahnya usia –halah kaya umur gue berapa aja- . Jika beberapa waktu lalu saya bisa orgasme melihat laki-laki tipe pemain band seperti Armand Maulana atau Erik Samsons, tapi kini mereka terlihat biasa saja dimata saya.

Tapi tentu bukan sembarang lelaki berusia matang yang membuat saya tertarik. Banyak laki-laki berusia matang yang berstatus singel, duda maupun doubel berceceran disekitar saya, sayangnya tak satupun yang memancing harsat saya untuk menggoda. Ketika menjalankan tugas, tanpa diduga satu dua kali saya bertemu dengan lelaki berusia matang yang memiliki pesona luar biasa dan kebanyakan mereka berdarah Jawa. Ah, saya masih terkena kutukan eksotisme pria Jawa.

Lelaki matang yang pertama kali membuat saya jatuh cinta adalah sutradara Garin Nugroho. Saya pertama kali bertemu dan berkenalan dengan sutradara Opera Jawa di sebuah cafe dibilangan Veteran. Awalnya saya cukup keder untuk menghampiri ayah tiga orang anak ini, maklum Garin merupakan tokoh perfilman tanah air yang saya anggap hebat.

Meski banyak pendapat yang mengatakan film-film Garin sekedar onani dan hanya dimengerti segelintir orang, namun saya tetap melihat sosok kelahiran Yogyakarta 6 Juni 1961 ini sebagai maestro dibidangnya. Dengan mengumpulkan keping-keping keberanian saya menghampiri ayah dari Kamila Andini ini. “Oh kamu anak buahnya Taufik Rahzen,” ujarnya ramah ketika saya menyebut di institusi mana saya bekerja.

Obrolan panjang kemudian mengalir, Garin bertutur mengenai pengalaman masa kecilnya yang pelupa, ayahnya yang dituduh PKI hingga romantisme percintaannya. “Aku menikah dengan sahabat adikku,” kata pria yang pernah diisukan memiliki anak hasil penikahan sirinya di Bandung.

Saya terpesona, benar-benar terpesona. Apalagi ketika Garin mulai mendongeng tentang film, pasar dan bunuh diri. Ada sisi lain yang belum pernah dijamah oleh otak saya tersaji dengan manis melalui penuturannya. “Kamu harus merasakan sakit, dengan merasakan sakit kamu akan merasa hidup” ujar Garin.

Jarum jam berdentang sepuluh kali, tanda malam semakin larut. Sebenarnya saya enggan undur diri, tapi bagaimanapun saya harus pulang. Saya meninggalkan Garin dengan segala pesonanya.

Lelaki kedua yang membuat saya tertarik adalah penyair Afrizal Malna. Sebelum berkenalan dengan laki-laki berkepala plontos ini saya terlebih dahulu membedah karya-karyanya, namun saya belum merasakan getar istimewa. “Tak ada anjing dalam rahim ibuku”

Saya bertemu langsung dengan lelaki kelahiran Jakarta, 7 Juni 1957 pada sebuah pelatihan penulisan essay sastra yang diadakan beberapa waktu lalu di Solo. Sebetulnya Afrizal tak dijadwalkan hadir, namun karena pembicara lain Katrin Bandels tidak bisa hadir maka pria berdarah padang ini didaulat untuk menggantikannya.

Afrizal memperlakukan puisinya sebagai instalasi kata-kata dan mozaik gambar-gambar yang tak selalu saling punya hubungan linier ataupun ikatan antarkata dan antarfrasa yang tertib dan masuk akal, sehingga struktur bangunan dan logika puisinya cenderung fragmentaris dan sering absurd, cenderung tak hendak menyerupai suatu bangunan bahasa yang integral dan cocok dengan segala hukum representasi.

Tak hanya ketika menulis, ketika bercakap dengan Afrizal saya juga harus ekstra waspada dan siap-siap untuk melompat ke sana dan ke sini, agar bisa tetap mengikuti arah bahasa dan tebaran imajinasi dalam arus lalu lintas penulisan puisinya. Tapi hal itu menyenangkan, sebagaimana mencicipi strobery di atas kue tar. Secara tidak langsung Afrizal mengajarkan saya bahwa menjadi tidak jamak itu menyenangkan.

Beberapa pekan lalu Afrizal berkunjung ke Jakarta –walau dalam alam pikirannya ia tidak mengenal kota- Kami kembali bercakap panjang di rumahnya yang asri di kawasan Blok M. Karena kemacetan ibu kota saya terlambat satu jam, tapi Afrizal tetap menyambut dengan senyum ramah.

Kami berbincang seolah telah sekian puluh tahun saling mengenal –padahal saya baru kenal dia dalam hitungan bulan- Secangkir capucino menemani obrolan kami, “Awas panas,” ujarnya sembari terkekeh.

Afrizal membuka mata saya tentang dunia lain yang tak tersentuh. Perhatiannya dengan hal-hal kecil membuat saya terbelalak kagum. Bagaimana seorang perempuan tua yang menanam tomat bisa menjadi cerita yang menarik. Atau dongeng liris tentang kematian kedua orang tuanya dan bagaimana rasanya menjadi orang minang yang terbuang.

Sayang siang itu saya harus bertemu dengan kepala BKPM Lutfie, suami dari artis artis cantik Bianca Adinegoro. Kalau tidak pasti saya bisa lebih lama terbuai dengan cerita Alice In The Wonderland ala Afrizal.

Lelaki berikutnya yang menarik perhatian saya adalah Seno Gumira Ajidarma. Sejak duduk dibangku kuliah saya sudah berkenalan dengan pencipta tokoh Sukab ini. Bermula ketika seorang pangeran dari negeri senja –damn, gue belon bisa lupa ma ni orang- memberi buku Sepotong Senja Buat Pacarku, saya langsung jatuh cinta pada Seno melalui karya-karyanya.

Saya baru diizinkan Tuhan bertemu dengan pria kelahiran Boston 19 Juni 1958 ketika pengujian Undang-undang Perfilman di Mahkamah Konstitusi Jakarta. Waktu itu ayah dari Timur Angin ini jadi saksi yang diajukan Masyarakat Film Indonesia. Meski nggak sempat ngobrol lama, saya cukup terpana melihat sosok fotografer yang masih tampak menarik diusianya yang memasuki setengah abad.

Senin malam kemarin saya kembali bertemu dengan lelaki berusia matang tetapi masih menarik. Dia adalah Andreas Darwis Triadi. Di awal pekan, ayah dua orang putri ini tampak asyik menikmati malam syahdu dibalut alunan denting piano. Dari balik cahaya temaram yang membasahi Fashion Bar pemilik Darwis Triadi School of Fotography ini terlihat lebih mempesona.

Seperti biasa awalnya saya ragu untuk menghampiri pria kelahiran Solo 15 Oktober 1954 ini, namun keramahannya menyapa satu dua pengunjung yang datang membuat saya berani untuk nekat. Tak seperti yang saya bayangkan, ternyata penyuka jajanan pasar ini merupakan pribadi yang menyenangkan.

Tanpa sungkan ia berbagi cerita, mulai dari kisah masa kecilnya yang berasal dari keluarga sederhana hingga jatuh bangun usahanya meniti karir. “Saya pernah merasakan menjadi orang susah, bahkan untuk bayar sekolah saja sulit,” ujarnya sembari menghisap rokok yang terselip antara telunjuk dan jari manisnya.

Saya ragu ketika apakah Darwis mau menjawab ketika saya bertanya mengenai masalah rumah tangganya. Darwis sempat tertunduk, kemudian kata-kata mengalir dari bibir hitamnya. “Saya pernah mengalami beberapa fase sulit dalam hidup, tapi saya memang selalu mempersiapkan diri untuk sesuatu yang terburuk,” kata Darwis.

Kini Darwis mengaku tengah berusaha bangkit kembali, mengumpulkan puing yang sempat hilang. Untuk melewati masa-masa itu tentu ia butuh teman, setidaknya seseorang yang bisa diajak berbagi. “Saya punya teman dekat, tapi belum berencana untuk menjalin lebih dari itu,” tutur dia.

Duda Keren

Dua sosok lain rentang usianya tak terlalu jauh dengan saya, tapi bisa terbilang cukup matang. Mereka tampak memikat dengan segudang prestasi dibidang yang digelutinya. Sebut saja nama Dimas Djayadiningrat dan Hanung Bramantyo.

Dimas saya temui disuatu malam menjelang pagi. Meski tampak lelah sepulang syuting iklan di luar kota, mantan kekasih penyanyi Shanty ini tetap berceloteh dengan seru. Tak hanya lesunya industri video klip tanah air yang dituturkan pria kelahiran 24 Agustus 1973 ini, tapi juga mengenai perjalanan karir serta sikap perfeksionisnya.

Ditengah percakapan Dimas berujar, “Umur lo berapa sih Ty.”

“23” jawabku singkat.

“Anjir beda 13 tahun, pantesan gue berasa ngobrol ma ABG,” ujarnya sembari tergelak.

“Yee bukan gue yang ABG, tapi lo nya yang tua”

Dimas juga tampak tersipu ketika aku mengaku mengikuti perjalanan karirnya sejak awal, rese lo Ty, hanya itu yang diucapkan untuk menutupi raut wajah yang semu.

Hanung saya temui disebuah mall di Jakarta. Awalnya saya hanya berniat wawancara lewat telpon, namun ternyata kekasih Saskia Adya Mecca ini mau menyempatkan diri untuk bertemu langsung. “Saya ada di XXI PIM II nanti sore, kita ketemu disana aja,” kata Hanung.

Petang itu Hanung tampak menarik dibalut kemeja putih dan celana jeans. Setelah membeli tiket kami memutuskan untuk membunuh waktu di cafe terdekat. Hanung memesan hot lemon tea dan saya memesan segelas capucino dingin. Ternyata sutradara film Ayat-ayat Cinta ini memiliki kisah perjalanan hidup yang tak kalah fenomenal dari film besutannya.

Cinta, datang dan pergi menghampiri pria berdarah Jawa ini. Hanung sempat menikah pada usia muda hingga dikaruniai seorang anak bernama Bumi. “kami memutuskan untuk berpisah, ternyata untuk menjalin sebuah hubungan tak cukup hanya bermodalkan cinta,”

Ia juga menunjukkan cerita pendeknya yang berjudul layang-layang. Ceritanya cukup menarik dan “liar”.

“Dari pengalaman pribadi,” tanyaku. Hanung hanya tersenyum.

Puih, sebenarnya ada satu sosok lagi. Tapi secara usia dia belum terbilang matang, baru memasuki kepala tiga. Dia bukan orang terkenal, yang kalau namanya disebut orang akan langsung tahu. Dia hanya penulis tidak terkenal dari Yogya. Perawakannya juga tidak istimewa, meski seorang teman mengatakan sekilas dia mirip Piyu Padi –saya curiga mata teman saya menderita katarak-

Saya mengenal dia sekitar dua tahun silam, tapi kami baru dekat sekitar setahunan. Dalam rentang itu hubungan kami fluktuatif dan selalu berputar pada lingkaran setan. Saya ingin dia pergi dari kehidupan, tapi sesaat kemudian sayalah yang berteriak ingin dia kembali.

Akhir bulan Juni silam Tuhan memberikan kado istimewa bagi saya, yaitu bersama dia. Memang tak lama, hanya sekitar tiga jam. Tapi saya bahagia, meski setelah itu dia kembali menghilang...

Senin, 04 Agustus 2008

Ode Buat Monyet


“Aku pamit. Semoga loe bisa mempertahankan idealisme sebagai seorang jurnalis di kota yang suck kaya Jakarta”

Pesan pendek itu masuk dalam telepon genggamku jam1 dini hari. Setengah sadar ku baca, ada hampa yang menggenang di kepala. Satu lagi sahabat hilang ditelan oleh monster bernama Jakarta, tanah merah yang telah berganyang beribu kepala.

*****

Urban Jazz Crossover, sebuah acara musik yang mengawinkan antara jazz dengan musik-musik urban seperti rock, pop, hip-hop bahkan dance. EQ Puradiredja, sang sutradara di balik layar menawarkan sebuah Ide gila dengan mengubah lagu Radja yang berirama rock menjadi swing atau membawakan Smell Like Teen Spiritnya dengan alunan saxsofon.

Aku, salah satu manusia urban yang ikut menyempal kepadatan kota Jakarta tertarik menonton pertunjukkan akrobat musik tersebut. Meski tak yakin bisa mencerna alunan musik kelas atas tersebut, setidaknya aku bisa melemaskan urat syaraf yang enam hari kebelakang dipaksa untuk terus tegang.

Tapi tentu saja aku tak mau konyol tenggelam diantara para sosialita, aku butuh satu orang teman yang kastanya sederajat untuk menemaniku menikmati pertunjukkan itu. Maka ku kirim pesan pendek pada dua orang teman Gendut dan Monyet berisi ajakan untuk menonton.

Lima menit, setengah jam, tiga jam tak ada jawaban. Mungkin mereka malas menemani, tapi juga enggan berbasa-basi menolak. Tidak membalas pesan merupakan salah satu cara jitu untuk menolak ajakan. Kantuk semakin pekat hinggap dimataku, aku menyerah.

Dengan mata sayup yang masih terbuka setengah, kuambil telepon genggam yang mencicit dengan rakus. Sebuah pesan pendek tertulis dilayar monitor : “Maaf aku nggak bisa Tet. Besok aku pulang ke Yogya, tanggal 23 aku resign dari HOL”

Masih setengah ling-lung ku letakkan kembali alat komunikasi yang sudah menjadi kebutuhan primer abad 21 ini. Ku biarkan tubuhku kembali rebah, sementara benakku melayang kepada dia serta jalinan yang pernah diuntai.

Dia, pria sederhana yang membuat aku jatuh cinta pada Jawa. Pada tubuhnya kutemukan dua kutub yang saling bertentangan, antara feodalisme khas Jawa dan keterbukaan ala barat. Semua menyatu dalam sel abu-abu yang ada di kepalanya dan menjadi daya tarik tersendiri.

Awalnya aku menganggapnya lelaki biasa, dijual obral sepuluh ribu empat dan bisa dengan kudapatkan dengan mudah di emperan Senen atau Pasar Baru. Laki-laki dengan mulut penuh ular-ular kebusukan yang selalu haus akan selangkangan atau laki-laki yang bisa membuatmu mati kebosanan, karena omongannya mirip dengan khotbah jumat di DPR. Underestimate maupun apriori menjadi bagian dalam diriku semenjak dua tahun menetap di Jakarta, ah lagi-lagi aku menyalahkan kota tempatku mencari makan.

Aku lupa dari mana kedekatan itu berawal, tahu-tahu kami sudah terjebak dalam perdebatan realis magisnya Marques. Tiba-tiba saja masing-masing dari kami sudah punya panggilan sayang, dia ku panggil monyet dan dan dia memanggilku Kuntet.

Dia teman yang menyenangkan untuk diajak menghabiskan malam-malam Jakarta. Sedikitnya tawa kami yang mengembang di langit-langit Jakarta mengurangi kadar karbondioksida maupun timbal yang keluar dari pantat dinosaurus berlabel mercy, mikrolet ataupun bajaj.

Sebotol bir atau secangkir kopi kerap kali menjadi teman kami bercerita, mulai dari kisah Soeharto yang mangkir tiga minggu waktu dipanggil Tuhan. Sehingga bukan hanya wartawan atau perawat yang bergantian berjaga tapi juga malaikat maut. “Jangankan dipanggil jaksa agung, dipanggil Tuhan aja Soeharto mangkir,” ujar dia kelakar.

Dan aku tersenyum mengingatnya.

Pernah suatu saat kami membahas mengenai seks dan selangkangan. Monyet berpikir seharusnya manusia tidak perlu menganggap seks sebagai sesuatu yang tabu dan istimewa. “Perlakukan seks layaknya kebutuhan biologis lainnya seperti makan, minum atau buang air,” ujarnya.

Bukankan makan, minum maupun buang air juga memiliki aturan yang harus ditaati. Kalau tidak mau muka bengkak-bengkak biru atau setidaknya diteriakin maling, untuk makan di restoran tentu harus membayar –kalau nggak pasti wartawan yang sedang ikut konpes -

Begitu pula kalau buang air, orang waras tentu tidak akan buang air di sembarang tempat. Meski sudah kebelet, setidaknya ia akan memilih tempat tertutup dan sepi. “Tentu lo nggak akan beol di depan kelas kan,” kata Monyet.

Seks seperti makan, tergantung selera. Selera juga bisa datang begitu saja, tanpa alasan yang logis.

Huh Monyet, lelaki bertubuh padat yang kerap mengundang birahi para perempuan – ingat waktu kita dugem di X2 banyak tante yang ngedeketin lo J- . “Lo tuh asik untuk diajak temenan dan diajak tidur, tapi bukan untuk dipacari,” ujarku.

“Sok tau lo, mang pernah pacaran ma gue. Lagian gue juga nggak mau tidur ma lo”

“ya udah kita pacaran aja untuk membuktikannya” tantangku

“Hua jauhkan gue dari mimpi buruk itu” kata Monyet yang gue yakin bukan dari hatinya yang terdalam.

****

Sepekan setelah kepergiannya kuputuskan untuk menghubungi Monyet. Ku tekan nomor yang sudah kuhapal di luar kepala.

“Lo baik-baik aja kan”

“Yups”

“Syukurlah..” dan kami bercerita panjang tentang obsesi dan alasannya meninggalkan belantara Jakarta.

“Kalau lo baik-baik aja, gue dukung lo pindah Nyet” ujarku

“Kalau lo nggak dukung mang ngaruh buat gue,”

Monyet nggak berubah dan semoga nggak akan berubah.

“Btw Nyet, gue masi pengen makanan Yogya lho,”

Kamis, 19 Juni 2008

Senja Di Balik Jendela



“Nothing takes the flavor out of peanut butter quite like unrequited love”

Tiara masih duduk ditepi jendela, memandangi jakarta yang basah. Tetes rinai hujan beberapa masih jatuh dari langit berwarna abu-abu. Tuhan sepertinya sedang menyukai warna abu-abu, batin Tiara.

Jauh dibawah sana, puluhan bahkan ratusan binatang bertubuh besi berjejer mengantri. Bagi yang tak sabar, mencoba menyalip dari kanan atau kiri. Tett..tett..anjing..pukimak kau, segala caci maki dan kata-kata kebun binatang terucap. Anehnya, kata-kata kasar itu bukan hanya terlontar dari bocah bertubuh ceking yang menawarkan ojek payung, atau bapak penjual rokok dengan tangan bertato, tapi juga dari pria berdasi di dalam mobil mercy. “Ah, apa mungkin mulut pria itu tak sempat mengecap bangku sekolahan.”

Tiara diam, seharusnya dia berada dibawah sana berjibaku melewati kemacetan Jakarta. Tapi ada sesuatu yang menahannya disini, di dalam ruang 3x6 berwarna jingga dengan pintu berwarna cokelat.

Ia menyukai jingga, sebagaimana ia menyukai senja. Semburat yang memberikan langit warna berbeda. Dimana ada senja, disitu ada keping merah jambu yang turun perlahan, pelan-pelan dia tenggelam dan akhirnya hilang dibalut malam.

Tak ada yang tahu kapan pemandangan senja kembali. Tiara jadi berpikir, mungkin itu yang membuat Sukab jadi kalap untuk memotong senja dengan pisau lalu menempelkannya pada sebuah kartu pos, dan mengirimkan pada kekasihnya.

Tetapi sayangnya senja itu sampai terlambat karena tukang pos tergoda untuk membukanya, dan tenggelam di negeri senja hingga ribuan tahun. Dan lebih menyakitkan lagi, perempuan itu tidak mencintai sukab.

“Sukab tidak salah, demikian juga tukang pos itu, keindahan senja memang luar biasa, bahkan membuat buta dan menuntut sebuah kegilaan. Kegilaan sama akan kau rasakan ketika jatuh cinta,” tutur Tiara disuatu ketika.

Kegilaan yang sama memacu Romeo dan Juliet, serta Roro Mendut serta Pronocitro menjadikan mati bersama sebagai sesuatu yang indah. Beratus cerita, beribu lagi muncul sebagai ekspresi dari perasaan cinta.

Tapi bagaimana bila cinta itu tak berbalas, seperti cinta Datuk Maringgih pada Siti Nurbaya atau cinta Brutus pada Olive. Adakah yang mau tahu perasaan mereka, rasanya tidak, orang lebih suka membahas cinta yang berakhir bahagia, tak ada tempat untuk memikirkan nasib cinta yang bertepuk sebelah tangan.

******

Mayang menatap genangan air di tepi jalan, begitu deras, memaksa mengalir kedalam got-got penuh sampah. Diatasnya tampak sekelompok anak bertelanjang dada bermain bola, cipratan air berwarna cokelat tua itu seolah ramuan bisa membuat mereka tertawa.

Mereka basah, dingin dengan sigap merayap di tubuh ceking berwarna legam. Mayang tak yakin perut-perut buncit itu telah penuh diisi nasi, ia lebih yakin jika perut-perut buncit itu berisi cacing. Tapi Mayang melihat mereka bahagia, tak seperti dirinya yang meskipun kering dan hangat, tapi tetap saja seperti ruangan hampa udara.

Telepon genggam Mayang berderit, ia pun kembali terhempas ke dunia nyata.

“Aku mau ke Yogya minggu depan”

“Ngapain?”

“Ketemu kamu”

“Jangan, nanti saja biar aku saja yang ke Jakarta”

“Tapi aku kangen kamu”

“Aku juga kangen,tapi..”

Tut..tut..tut baterai yang habis menutup paksa pembicaraan dengan tidak sempurna. Mayang kembali diam, ada riak-riak yang bergelanyut dibenaknya.

“Ke stasiun Pak” ujarnya memerintah supir.

*******

Dewa menatap langit-langit kamar bertabur glow in the dark. Hanya langit-langit bukan langit yang bertabur bintang. Tak ada cahaya putih bulan, cuma cahaya lampu neon yang menyelinap dari balik tirai jendela.

“Kamu mikirin dia” tanya gadis dalam peluknya.

“Tadi siang aku nelpon dia”

“Terus”

“Dia mau ke Jakarta”

“Wah berarti aku nggak bisa nginap lagi disini dong”

Dewa tak menjawab. Diciumnya rambut si gadis.

Si gadis menghela nafas. Dewa bisa mendengar ada luka disana.

Dipereratnya pelukan ketubuh si gadis. Kulit yang telanjang saling bersentuhan, birahi pun terpercik. Si gadis mencium bibir Dewa.

“Ayo tidur besok kamu harus wawancara” kata Dewa menghentikan saat bibir si gadis mulai merambat ke dada.

Si gadis langsung berbalik. Api birahi serta merta padam. Bulir bening mengalir dari kedua matanya yang legam.

*******

Tiara memandang lekat-lekat perempuan dihadapannya, seakan ingin menguliti apa yang ada di setiap incinya. Legam matanya jelas memancarkan sebuah luka bercampur tanya yang membaluri hatinya. Apa yang dimiliki perempuan ini, sehingga laki-laki itu betul-betul bertekuk lutut, apakah ia Medusa dengan hiasan ular di kepala ataukah Dewi Sri, yang menentukkan kesuburan padi.

“Bisa kita mulai wawancaranya?” tanya perempuan itu sembari menatap mata Tiara. Tiara tahu jawabannya. Perempuan itu Medusa, ia bisa melihat ada bisa disela giginya.

Tiara yakin dibalik rambutnya yang terurai panjang bersembunyi ular-ular kecil yang mematikkan. Pasti, salah satu ular itu yang menghisap seluruh cinta dalam tubuh Dewa dan tak menyisakan setitik pun untuk Tiara.

Tiara yakin dan ia benci itu. Ular-ular itulah yang menemani Dewa tidur tadi malam. Ular-ular itulah yang mencium serta melumat habis bibir Dewa. Tak hanya itu Tiara yakin ular-ular itu pasti nakal, mereka akan menyusup ke balik selimut lalu masuk diantara dua selangkangan dan menghisap sari-sari kehidupan Dewa sampai kering.

Tiara yakin, namun ia tak bisa mencegahnya. “Apa yang membedakan novel anda dengan novel lain yang spernah ada,” hanya itu yang terlontar dari bibirnya.

*******

“Tadi aku diwawancara perempuan bermata legam sama seperti lukisanmu, entah mengapa perasaanku yakin kalau kau mengenalinya”

Dewa diam. Ia tahu perempuan bermata legam itu Tiara, sama dengan perempuan dalam lukisannya.

“Ada banyak perempuan bermata legam di Jakarta”

“Tapi entah mengapa aku yakin dia yang ada dalam lukisanmu”

“Kau cemburu?”

“Iya, kau tahu betapa aku mencintaimu”

“Tapi aku tak pernah mengeluh, meski aku cemburu dengan suamimu” ujar Dewa datar.

Mayang membuang muka keluar, dilihatnya hamparan langit jingga yang membentang. Pemandangan sama tengah dinikmati Tiara dari balik jendela.

Rabu, 28 Mei 2008

Lelaki dan Senja



Jendela messengerku berkedip, tanda ada pesan masuk. Aku melirik dan kutemukan sebuah nama asing tertera disana, lelaki senja . Di dorong rasa penasaran segera ku klik kotak messengerku.

Mengejutkan, kutemukan sepotong senja disana. Senja kemerahan, seperti pipi perawan yang habis dicium pacarnya lengkap dengan deburan ombak, pasir putih serta aroma khas pantai. Alamak, Sukab-kah yang memotong mahakarya ini untukku?.

Pasti bukan, ujarku dalam hati. Pertama aku tak mengenal satu pun pria bernama Sukab. Nama Sukab yang kutahu hanya lelaki dalam cerita-cerita Seno Gumira Ajidarma, tapi dia pun sudah mencintai perempuan lain bernama Alena. Lalu adakah Sukab lain yang menggilai senja dan memotongkannya untukku?

Untuk tahu jawabannya ternyata aku tak perlu menunggu lama, kotak messengerku kembali diketuk.

“Hallo nona, aku tahu kau menyukai senja, makanya kukirim sepotong senja untukmu,”

Aku tersenyum. Sudah lama tak ada yang berlaku manis seperti itu kepadaku. Tanpa menunggu lama kami pun saling bertukar cerita. Mulai dari nama, usia, tempat tinggal hingga ukuran celana. Saking asyiknya sampai aku lupa bertanya dari mana dia tahu aku menyukai senja.

******

Dalam waktu singkat lelaki senja itu pun masuk dalam kehidupanku. Bergabung meniupkan mantra-mantra ritmis ke relung hatiku dan aku suka itu.

“Kau hanya perempuan kesepian yang haus kasih sayang dan belaian di selangkangan”

Mungkin komentar teman itu ada benarnya. Aku memang perempuan yang sering merasa gatal pada selangkangan, tapi kalau hanya sekedar alasan birahi tentu bukan dia yang kupilih.

Bercinta bagiku sama dengan memilih makanan. Walau terkesan sembarang, sebenarnya banyak kriteria yang harus dipenuhi, mulai dari penyajian, rasa hingga selera. Efek samping juga harus ditimbang masak-masak, percuma kalau perut kenyang kalau makanannya bikin kolesterol atau darah tinggi dan akhirnya Cuma bikin cepat mati.

Dalam bercinta pun menganut prinsip yang sama. Keamanan nomor satu, pakai pengaman demi masa depan. Bukan hanya menghindari kehamilan, tapi juga agar terhindar dari penyakit menular seksual.

Penyakit menular seksual memang jarang yang mematikan, tapi sangat memalukan. Saat pergi kedokter kelamin, dia tak langsung menghujatmu. Namun sembari memberi antibiotik dia akan menghujanimu dengan ribuan anak pisau yang secara otomatis keluar dari matanya.

Tanpa konfirmasi terlebih dahulu, dia akan langsung menempelkan stempel penzina dikeningmu. Belum lagi tanpa merasa risih dia akan berbisik-bisik dengan suster sambil melirik kearahmu, seolah mereka hakim berahlak lebih baik dan berhak merajammu.

Ketika kriteria tersebut terpenuhi belum tentu percintaan serta merta dapat terjadi. Bisa saja walaupun perutku keroncongan setengah mati, bisa saja lidahku enggan mengunyah makanan yang tersaji. Balik lagi ke masalah selera, bisa saja yang tersaji makanan eropa sedang saya sedang ingin makanan sunda. Atau bisa saja yang tersedia kambing guling sedangkan saya vegetarian.

Namun bisa saja terjadi, perutku lapar setengah mati tapi aku tak menemukan secuil pun remah roti. Pasti aku akan gigit jari atau mengandalkan daya khayal tingkat tinggi dengan membayangkan restoran mewah bercitra rasa tinggi dengan pelayanan nomor wahid. Aku pun masturbasi.

Kembali pada lelaki senja, berwisata seks dengan dia tak ubahnya makan nasi goreng dipinggir jalan. Tak ada yang istimewa, entah rasa ataupun penyajiannya. Hanya memberikan rasa kenyang, tanpa meninggalkan kesan.

Secara kasat mata, lelaki senja bukan sosok yang sedap untuk dipandang. Kulitnya hitam gersang terbakar matahari, rambutnya ikal tak beraturan pokoknya bukan gambaran pria-pria di dalam iklan celana dalam yang memamerkan ketampanan serta atau maskulinitas.

Namun sesuatu hal yang biasa itu berhasil menyihirku. Bagai sabu yang merangsang neuron diotakku, aku selalu rindu ketika tak bercumbu. aku sendiri tak hapal apa yang kurasa, aku tak terlalu pandai untuk mengurainya dalam bentuk cerita.

Mungkin kau jatuh cinta seperti cerita syair lagu-lagu pop yang diputar ditoko-toko cina, kata seorang teman.

Entahlah, ujarku membatin. Bukan aku tak mau berbagi, bukan juga karena aku ingin menyimpan cerita ini sendiri. Lalu melumatnya hingga berkeping, sehingga tak meninggalkan jejak dan hanya jadi tahi.

Mungkin cinta bagiku hanya celoteh omong kosong yang ada ditelenovela. Aku memang sering bercinta, tapi aku sudah lupa rasanya jatuh cinta. Semenjak hatiku diamputasi, aku mengunci cintaku di gudang belakang.

Diruang yang gelap dan pengap itu cinta kubiarkan sendiri, tak pernah kukunjungi. Mungkin hanya debu dan cicitan tikus yang menemaninya atau mungkin menggigitnya. Biar cinta itu sakit tipes atau hepatitis lalu mati, batinku.

Aku tak tahu kabar cintaku sekarang. Aku sempat mau menyuntik mati, namun seorang teman melarang, lumayan untuk koleksi. Marchendise, untuk gaya-gayaan biar orang tahu aku pernah punya hati.

Sudahlah, terlalu panjang untuk membahas soal cinta. Yang penting kali ini aku kembali orgasme diatas senja yang melengkung. Semburat merah tampak dari wajah kelelahan, mungkin karena terlalu lama mengejan. Dia diam, aku diam, kami sama-sama diam. Seakan kata-kata menjadi sesuatu yang langka, kekakuan yang aneh seusai bercinta.

Bukankah tapi kita bergumul, bersatu memilin rahasia pribadi. Bercumbu, mencoba menjadi satu

Kutatap mata lelaki senja yang tengah meringkuk dibalik selimut, ada damai yang selalu ingin kucium dan kukulum. Dia diam, aku diam, namun sesaat kemudian aku merasa tenggelam dalam lautan kata-kata.

Masih dengan tubuh telanjang aku berlari ke gudang belakang. Lalu ku buka gembok yang berkarat. Sarang laba-laba dan bau apek seolah menjadi sebuah upacara penyambutan, apakabar teman.

Aku menebar biji mata ke setiap pojok ruangan. Beberapa saat dan akhirnya kutemukan dia. Ku temukan disudut ruang yang penuh debu, hatiku yang sudah kehilangan bentuk.

Aku senang, hingga melonjak kegirangan seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan. Mungkin hati itu hanya tinggal secuil, itupun penuh cabik dan parut. Tapi tetap kuambil, bukan untuk kupasang lagi, melainkan kupersembahkan bagi lelaki senja.

Kuberikan hati itu pada lelaki senja, aku ingin dia memilikinya

******

Lama tak kudengar kabar dari lelaki senja. Sudah 120 dua puluh malam setelah hati itu keberikan hatiku padanya. Padahal dibalik dinding kamar aku menunggu. Sekarang bukan selangkanganku yang basah, tapi kedua bola mata. Kristal bening mengalir, membentuk aliran sungai.

Warna langit mulai kelam. Semburat senja perlahan menghilang dibalik mega. Dari jendela yahoo messenger kutunggu kabarnya. Tapi lelaki senja tak kunjung online. Hanya pesan pendek yang tertinggal.

Anakku sakit aku harus pulang

Jakarta 28 Mei 2008

Minggu, 25 Mei 2008

Mengapa Menikah Itu Penting?





Seorang teman akan segera meninggalkan Indonesia untuk melanglang buana ke tiga negara di Eropa. Bagi saya dan teman-teman di geng Nucep tentu itu sebuah hal yang membahagiakan dan berharap semoga keberuntungan itu menular pada kami.

Teman saya itu adalah seorang perempuan sederhana yang menyenangkan. Selama saya dua tahun tinggal dibelantara Jakarta, dia merupakan salah satu “tong sampah” bagi saya untuk menuangkan unek-unek yang sebagian besar nggak penting.

Terus terang saya merasa kehilangan dan takut apakah saya akan menemukan teman sebaik dia dikemudian hari. Apabila tidak tentu saya harus menyediakan anggaran khusus serta merogoh kocek lebih dalam untuk sekedar curhat dengan dia yang berada di benua berbeda.

Suatu siang yang ketika mood saya tdak begitu baik, beberapa geng Nucep asyik berdiskusi –bahasa yang lebih sopan untuk tidak menyebut bergosip- masalah hubungan teman saya itu dan pacarnya saat nanti dia berangkat ke Eropa.

Teman saya mengatakan, ia dan pacarnya akan segera bertunangan. Hal itu bertujuan agar ada sebuah ikatan yang pasti antara mereka. Tetapi anggota pertama –perempuan yang akan segera melepas masa lajangnya Juli mendatang- menyarankan tidak setuju. Dia menyarankan agar teman saya itu untuk langsung menikah. Dia beralasan, bertunangan tidak menjamin langgengnya sebuah hubungan, apalagi jika jarak yang membentang cukup jauh.

Anggota lain –perempuan yang akan melepas masa lajangnya akhir tahun ini- mencoba menganalisis dari sudut psikoanalalisis. Dia menilai teman saya ini belum siap dan belum cukup yakin dengan pasangannya. Untuk itu dia menyarankan teman saya untuk tidak usah bertunangan saja. “Siapa tahu di Eropa lo ketemu yang lain, lagian tunangan itu nanggung,” ujar dia.

Pertanyaan muncul dibenak saya, mengapa menikah menjadi topik yang sering didengungkan ketika perempuan menginjak usia 25 tahun. Mengapa mereka seolah merasa menikah adalah sebuah tahap untuk mencapai kesempurnaan dan tanpa itu mereka bagai malaikat yang kehilangan sayap.

Tentu saya tidak mengklaim pemikiran mereka salah. Perempuan berhak menentukkan pilihan hidupnya, seperti saya yang memilih untuk memposisikan pernikahan adalah sebuah hal yang tidak penting.

Kalau disodori pertanyaan kapan saya menikah maka saya akan menjawab belum tahu. Jawaban yang tidak cerdas karena memang saya belum menemukan jawaban yang cerdas kenapa saya perlu menikah.

Alasa pertama, saya yang tidak cerdas ini menilai sebagai manusia saya pencapaian belum apa-apa. Secara materi, dibandingkan teman SMA saya yang bekerja di perusaahan tambang tentu penghasilan saya tidak sampai sepersepuluhnya.

Kedua, secara karya, saya belum menghasilkan buku atau film yang layak di apresiasi. Seorang teman menyebut saya sebagai penulis pemula yang karyanya harus banyak direvisi, dan tentu saja saya sadar akan hal itu.

Ketiga, saya juga merasa belum pernah membahagiakan kedua orang tua saya. Kedua orang yang dengan ikhlas membesarkan saya dengan kebandelan-kebandelan dan mau menerima saya apa adanya. Masa saya belum membahagiakan orang yang memelihara saya dari lahir, sudah harus membahagiakan orang lain –orang tua serta keluarga suami saya-

Alasan keempat banyak yang belum saya capai. Saya masih ingin menjelajahi banyak tempat, tanpa harus dibebani pikiran bagaiman anak saya dirumah atau apakah suami saya berselingkuh dengan sekertarisnya.

Kelima, saya masih mau mencoba kebandelan-kebandelan lainnya. Saya tidak ingin bernasib seperti pacar teman saya yang notabene adalah istri orang. Saya ingin menjadi istri yang baik ketika saya menikah kelak –itu juga kalau saya menikah-. Pepatah mengatakan, salah satu alasan kenapa orang selingkuh ketika sudah memiliki pasangan adalah karea dia tidak puas dengan masa mudanya, -pepatah yang dibuat tanpa melalui pengujian atau survey-

Alasan keenam karena saya belum percaya dengan sebuah komitmen. Bahkan untuk sekedar berpacaran. Entah kalau ketidakyakinan tersebut dipicu karena saya belum bertemu laki-laki yang tepat. Only heaven know

Alasan terakhir karena saya baru berusia 23 tahun. Seorang teman yang berusia 35 tahun mengatakan, kamu tiak akan berbicara seperti itu bila sudah berda pada posisi saya. Entahlah, semoga menikah tidak menjadi kewajiban bagi saya dan saya harus menikah karena usia saya sudah kepala tiga. Atau saya menikah karena takut dicemooh perawan tua –come on apa yang salah dengan perawan tua-

Saya ingin menjadikan menikah atau tidak adalah sebuah pilihan, pilihan yang diambil dengan sadar bukan karena keterpaksaan. Saya akan menikah karena saya perlu dan sekarang saya belum merasa perlu.

Jumat, 16 Mei 2008

Mari Mengimpor Hantu Ke Cannes


Film Indonesia singgah ke Festival Cannes, tentu itu sebuah kabar yang membanggakan. Tidak hanya bagi insan perfilman, tapi juga bagi saya yang nonton film sebulan sekali saja belum tentu J.

Dengan semangat empat lima saya pun mendatangi konfrensi pers yang diadakan di Gedung Departemen Pariwisata itu. Agak terlambat memang, karena sebelumnya saya harus berjibaku menembus belantara Jakarta yang penuh sesak.

Hadir dalam konpers tersebut, beberapa produser yang diimport dari India, Menteri Kebudayaan Jero Wacik, Irwansyah serta Sheila Marcia Yoseph. Dengan bangga Pak Menteri mengatakan akan mengirim 23 film Indonesia ke ajang bergengsi tersebut.

Namun sesaat kemudian kebanggaan saya perlahan memudar, berganti kening yang mengeryit dan tanda tanya besar ketika saya tahu film macam apa yang dikirim. Anda tertarik untuk tahu, baiklah akan saya sebutkan, mulai dari 40 Hari Bangkitnya Pocong, Hantu Ambulance hingga Kereta Hantu Manggarai.

Dari sekian banyak daftar panjang film horor Indonesia, saya baru menonton dua judul –itu juga karena premier gratisanJ-, Kereta Hantu Manggarai dan Hantu Pocong Perawan.

Film Hantu Pocong Perawan bisa dikatakan 90 persen menjual sensualitas Dewi Persik. Hampir sebagian besar film diisi oleh adegan mesum yang tidak pada tempatnya, yang kalaupun dihilangkan tidak menghapus esensi cerita.

Diawal film anda sudah disajikan adegan Dewi Persik bergumul didalam air dengan Ramon Y Tungka. Pemilik goyang gergaji itu hanya mengenakan bikini, saya rasa bagian awal sudah cukup membuat otak anda ereksi.

Tapi itu baru awal, selanjutnya anda akan terus dibombardir dengan adegan-adegan “panas” yang membuat selangkangan basah. “Cukup untuk bahan onani seminggu,” ujar seorang teman yang duduk disebelah saya.

Mulai dari skenario hingga kostum yang digunakan saya rasa tidak masuk diakal. Selama saya menyandang status mahasiswa selama 4,5 tahun, saya belum pernah melihat mahasiswi yang menggunakan baju seminim yang digunakan Dewi Persik.

Entah kalau logika yang mati menjadi salah satu syarat film horor Indonesia. Tapi saya yang sama sekali tidak pernah mendapatkan pendidikan seni peran menilai para pemain dapam film ini tidak berakting, kalau mau berbelas kasihan saya menganggap mereka hanya mencoba berpura-pura.

Sampai film berakhir saya masih bertanya, dimana letak keseraman filmnya, bukankah yang saya tonton ini film horor. Mungkin kalau bisa pocong akan protes karena namanya dicatut jadi judul film tadi dapet scene ga lebih dari 1/12 film.

Beralih ke Film Kereta Hantu Manggarai, walaupun film ini tak separah film pertama tapi tetap saja saya melihat ada sebuah logika terputus. Tapi film ini cukup membuat saya takut ke wc pada malam hari selama seminggu J.

Ternyata selain mengimpor TKI, Indonesia juga mengimpor hantu. Dapat dibayangkan bagaimana mahluk-mahluk dari dunia lain itu wara-wiri di Red Carpet Cannes. Tapi mungkin sebelum membayangkan hal itu aku harus membayangkan terlebih dulu bagaimana para juri yang pastinya bule itu menterjemahkan apa yang dimaksud pocong.

Entah apa yang ada dibenak Pak Menteri mengirim film-film tersebut. Padahal saya rasa masih ada film yang masuk dalam kategori bergizi. Entahlah..